Merencanakan Dan Membangun Rumah Yang Tahan Gempa

Mengamati sejumlah gempa besar yang pernah mengguncang negara kita, tampak sekali sebagian besar bangunan di negara kita bukanlah bangunan yang didesain tahan gempa. Akibatnya, ketika gempa datang, bangunan-bangunan yang semula tampak kokoh dapat roboh dengan mudahnya.

Jika Anda berencana membangun rumah dalam waktu dekat dan lokasi Anda berada pada daerah rawan gempa, perencanaan yang matang diperlukan untuk mengantisipasi jika bencana gempa itu datang. Persiapkan dan rencanakan kondisi rumah agar mampu mendukung keselamatan jiwa anda dan keluarga jika terjadi gempa.

Lihatlah situasi setiap ruangan dalam rumah Anda. Perkirakan potensi resiko yang ditimbulkan untuk meminimalkan kerusakan dan timbulnya korban jiwa akibat gempa. Bayangkan jika terjadi goncangan barang-barang apa saja yang bisa jatuh, pecah ataupun membahayakan diri Anda dan keluarga. Berikut adalah beberapa pertimbangan untuk meminimalkan resiko akibat gempa pada rumah Anda.

Dapur. Potensi resiko mungkin paling besar ada di dapur Anda. Perhatikan barang-barang yang ada di dapur. Lemari gantung atau kitchen set harus terikat kuat ke dinding dengan paku, sekrup atau siku. Pastikan semua cabinet dapat dikunci sehingga ketika gempa datang tidak ada barang-barang dalam cabinet yang keluar, terhambur dan menimpa penghuni rumah. Terutama perhatikan barang pecah belah agar selalu diletakkan dalam lemari yang terkunci.

Barang-barang yang besar sebaiknya ditaruh di bawah. Untuk menghindari jatuh dan menimpa penghuni rumah. Pastikan juga barang besar yang beroda mempunyai kunci pada roda sehingga tidak mudah bergeser. Barang pecah-belah yang di display terbuka hendaknya diberi double tape dibagian bawahnya.

Kamar Tidur. Kita mungkin menghabiskan waktu lebih banyak di ruangan ini. Perhatikan cermin, lukisan ataupun hiasan lain yang digantung untuk tetap terikat kuat di dinding. Jika tempat tidur dan beberapa furniture mempunyai roda sebaiknya pastikan rodanya terkunci. Lemari-lemari yang tinggi harus diikat dengan kuat ke dinding juga.

Persiapkan juga lampu senter di tempat yang terjangkau di setiap kamar. Jika gempa terjadi pada malam hari kemungkinan listrik mati sangat besar. Banyak juga yang menyarankan untuk menyiapkan safety shoes agar dapat dipakai ketika gempa untuk menghindari kaki terluka oleh pecahan kaca atau beling.

Ruangan yang lain kurang lebih sama pengamanannya. Memang sebaiknya interior dan furniture rumah memakai kaca tampered (tempered glass) yang aman jika pecah. Tapi harga kaca jenis ini memang lebih mahal dari pada kaca biasa sehingga pembuat furniture jarang menggunakannya.

Mengidentifikasi Kerusakan Bangunan Akibat Gempa

Kerusakan yang terjadi pada bangunan rumah tinggal Anda dapat dikatergorikan sebagai berikut:

1. Kerusakan Ringan Non-struktur

Ciri-cirinya adalah :

  • Adanya retak halus (lebar celah lebih kecil dari 0.075 cm) pada plesteran
  • Serpihan plesteran berjatuhan
  • Kerusakan hanya mencakup luasan yang terbatas.

Perbaikan dapt dilakukan secara arsitektur tanpa mengosongkan bangunan

2. Kerusakan Ringan Struktur

Ciri-cirinya adalah :

  • Adanya retak kecil (lebar celah antara 0.075 cm hingga 0,6 cm) pada dinding
  • Plester berjatuhan
  • Kerusakan mencakup luasan yang besar
  • Terjadi kerusakan bagian-bagian nonstruktur seperti lisplang dan talang
  • Kemampuan struktur utama untuk memikul beban tidak banyak berkurang
  • Masih layak huni

Perbaikan dapat dilakukan secara arsitektur tanpa mengosongkan bangunan.

3. Kerusakan Struktur Tingkat Sedang

Ciri-cirinya adalah :

  • Adanya retak besar ( lebar celah lebih besar dari 0,6 cm )
  • Retakan menyebar luas di banyak tempat termasuk kolom dan balok
  • Kemampuan struktur untuk memikul beban sudah berkurang sebagian
  • Masih layak huni

Perbaikan dilakukan secara arsitektur dan perkuatan bagian struktur unduk menahan beban. Bangunanpun perlu dikosongkan dan dihuni kembali setelah proses perbaikan selesai.

4. Kerusakan Struktur Tingkat Berat

Ciri-cirinya adalah :

  • Dinding pemikul beban terbelah dan runtuh
  • Bangunan terpisah akibat kegagalan unsure-unsur pengikat
  • Sekitar 50% struktur utama mengalami kerusakan
  • Sudah tidak layak huni

Pada keadaan ini bangunan harus dirubuhkan dan diperbaiki secara menyeluruh.

5. Kerusakan Total

Ciri-cirinya adalah :

  • Bangunan roboh seluruhnya ( > 65% )
  • Sebagian besar komponen utama struktur rusak
  • Tidak layak huni

Bangunan ini harus dirubuhkan. Lokasi dibersihkan dari puing bangunan dan selanjutnya dibangun bangunan baru

Meminimalisasi Efek Gempa Pada Rumah

Secara geologis kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan jalur gempa utama sehingga memiliki aktifitas gempa bumi yang cukup tinggi. Pada beberapa tahun terakhir ini gempa bumi makin sering terjadi. Sebagai peristiwa alam kemunculannya tiba-tiba dan sulit diduga. Belum ada teknologi yang dapat meramalkan kapan dan dimana terjadinya. Sehingga seringkali banyak korban jiwa yang menyertai terjadinya gempa bumi.

Mayoritas korban tewas disebabkan oleh runtuhnya bangunan. Kebanyakan bangunan terutama rumah tinggal dibangun tanpa memperhatikan prinsip-prinsip rumah tahan gempa untuk menghemat biaya. Padahal membangun rumah tahan gempa adalah suatu keharusan di daerah rawan gempa seperti Indonesia. Masalah biaya itu relatif dan masih bisa dikelola secara kreatif. Apalagi jika kita tau akibatnya jika gempa terjadi.

Sebenarnya tidak ada rumah yang benar-benar tahan terhadap beban gempa. Tentunya semakin besar gempa terjadi semakin besar juga kerusakannya. Tugas kita adalah membuat kerusakan bangunan seminimal mungkin.

Kriteria bangunan tahan gempa adalah sebagai berikut :

  1. Bila terjadi gempa ringan, bangunan tidak mengalami kerusakan baik secara struktural maupun non struktural.
  2. Bila terjadi gempa sedang, komponen bangunan non struktural boleh rusak tetapi komponen struktural nya tetap utuh.
  3. Bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non struktural maupun struktural, tetapi tersedia selang waktu bagi evakuasi penghuni bangunan tersebut keluar sebelum bangunan runtuh.

Mari kita perhatikan prinsip-prinsip utama dalam membangun rumah tahan gempa, prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut:

1. Denah Dan Struktur Bnagunan Yang Simetris

Denah Bangunan. Denah yang sederhana dan simetris akan memudahkan kita menentukan letak titik-titik kolom dan pondasi yang akan menjadi rangka struktuk utama pada rumah kita. Misalnya untuk kolom beton bertulang yang ideal untuk rumah tinggal biasanya berjarak 3 – 4 m.

Struktur Bnagunan. Struktur bangunan sederhana dan simetris dapat menahan gaya gempa yang lebih baik dari pada bangunan dengan bentuk yang tidak beraturan. Ini disebabkan karena gaya gempa yang terjadi dapat terdistribusi secara merata ke semua elemen struktur.

2. Pemilihan Material Yang Ramah Terhadap Gempa

Besarnya gaya gempa yang menimpa sebuah bangunan berbanding lurus dengan berat bangunan itu sendiri. Itu sebabnya penting untuk membuat bangunan menjadi lebih ringan dengan menggunakan bahan bangunan yang ringan.

Jepang merupakan Negara dengan teknologi konstruksi tahan gempa yang terbaik. Itu karena wilayah mereka memang sangan rawan terhadap gempa. Kalau diperhatikan sebagian rumah-rumah tradisional Jepang berstruktur kayu dan umumnya satu tingkat. Partisi antar ruangan memakai bilah bambu dan kertas yang sangat ringan.

Rumah tradisional Indonesia ternyata dirancang tahan gempa oleh nenek moyang kita. Pemakaian struktur kayu dan bambu dengan atap memakai rumbia atau ijuk terbukti dapat bertahan ketika ada goncangan gempa

Banyak material di pasaran sekarang yang mendukung perencanaan rumah tahan gempa. Pemakaian dinding beton aerasi atau bata ringan juga lebih baik dari bata dan batako. Untuk atap juga dipakai rangka baja ringan dan genteng aspal atau seng gelombang. Pemakaian partisi dari gypsum atau GRC juga dapat membuat massa bangungan menjadi lebih ringan.

3. Sistem Konstruksi Penahan Beban

Pada konstruksi rumah tahan gempa perlu diperhatikan agar struktur pondasi, kolom, balok dan struktur atap menyatu dengan sambungan yang memadai. Untuk konstruksi kayu selain perlu tambahan struktur menyilang ( bracing ) harus dilengkapi dengan plat baja pengikat di setiap pertemuan (joint) sehingga menjamin fleksibilitas geraknya.

Bangunan dengan struktur beton bertulang harus memakai tulangan yang tepat sesuai dengan perhitungan strukturnya, baik tulangan utama maupun cincinnya. Sambungan antara kolom, pondasi dan sloof pun harus diperhatikan detailnya agar mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan beban gempa.

Selain struktur rumah perlu diperhatikan juga mengenai interior rumah. Lihat satu persatu ruangan yang ada di rumah kita dan bayangkan apa yang akan terjadi pada saat gempa. Lihatlah benda apa saya yang mungkin bisa jatuh dan menimpa kita. Mengatur barang-barang berat untuk ditempatkan di lantai. Lemari sebaiknya diikat ke dinding dengan dipaku, skrup atau diberi siku. Benda-benda yang mudah terbakar harus disimpan di tempat yang aman dan tidak mudah pecah.

Gempa memang datang tiba-tiba, maka perlu bagi Anda dan keluarga untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya terutama pada bangunan tempat tinggal kita.

Pemilihan Material Bangunan untuk Rumah Tahan Gempa

Kolom dan Balok Dari Kayu Atau Bambu. Selain sistem konstruksi dan sambungan yang baik, rumah tahan gempa juga memerlukan material yang ringan dan kuat. Karena semakin berat suatu bangunan semakin besar juga gaya gempa yang menimpanya . Contoh sederhana adalah rumah tradisional dari berbagai tempat di Indonesia yang ternyata lebih tahan gempa dari rumah-rumah modern. Ini disebabkan material yang dipakai kebanyakan berasal dari kayu dan bambu yang ringan dan fleksibel.

Gambar Rumah Kayu Yang Lebih Tahan Terhadap Beban Gempa

Siapa bilang rumah kayu dan bambu tidak kokoh dan tahan lama? Sejarah membuktikan rumah itu dapat bertahan sampai ratusan tahun. Coba kita lihat juga rumah tradisional jepang yang juga terbuat dari kayu dan bambu dapat berdiri kokoh selama ratusan tahun setelah puluhan kali terkena gempa. Ini menunjukan kayu dan bambu memang bahan bangunan yang sudah teruji ketangguhannya.

Rumah modern di Indonesia biasa memakai bata atau batako sebagai material dinding. Sifatnya yang getas dan tidak lentur membuat material ini tidak tahan gempa. Namun untuk alasan kekokohannya terhadap benturan, api, angin dan alasan keamanan lainnya banyak orang yang tetap memilih dinding bata. Jika anda bersikeras anda harus mematuhi aturan struktur bangunan tahan gempa. Beberapa contohnya adalah:

  • Perletakan kolom-kolom praktis di setiap jarang 2- 3 m sepanjang dinding
  • Dinding bata perlu diberi angkur ke kolom setiap jarak susunan 8 bata.
  • Tidak memasang beban atap langsung diatas bata melainkan harus diberi balok dengan tulangan yang mencukupi.
  • Pondasi, sloof dinding dan balok merupakan satu kesatuan sehingga mampu meredam getaran gempa.

Sebagai pengganti tembok bata, Anda dapat menggantinya dengan beton ringan aerasi seperti merk hebel dan primacon. Beton ringan tersedia dalam bentuk blok dan panel yang dapat dipakai untuk dinding, pelat lantai ataupun tangga.

Dinding Dengan B-Panel. Sistem b-panel yang merupakan teknologi baru dinding sandwich. Panel ini menggunakan material b foam yang sangat ringan dilapisi dengan wiremesh untuk kelenturan strukturnya. Ringan dan fleksibel sesuai dengan syarat rumah tahan gempa.

Bila anda menginginkan pembuatan dinding yang cepat, ringan dan tahan gempa anda bisa mengganti struktur konvensional dengan struktur rangka dinding baja ringan. Struktur ini sebenarnya tidak hanya menggantikan fungsi dinding, tetapi juga menggantikan fungsi kolom dan dapat mendukung beban struktur yang ada di atasnya. Dengan demikian pemakaian struktur rangka ini tidakcladding-house lagi memerlukan kolom dan balok.

Dinding Dengan Metal Cladding & Fiber Cement. Untuk material penutup dinding, bagian luar bisa menggunakan panel dinding baja ringan (metal cladding ), GRC, fiber cement (calsiboard) ataupun kayu. Sedangkan untuk dinding bagian dalam bisa menggunakan gypsum. Dengan finishing yang baik tampilan luar tidak akan jauh berbeda dengan menggunakan sistem konvensional.

Dinding Kaca Tempered. Selain itu perlu juga diperhatikan pemakaian kaca pada jendela, pintu ataupun atap. Pemakaian kaca biasa sangat berbahaya karena kemungkinan akan pecah diwaktu gempa dan melukai penghuninya. Pemakaian kaca tempered sangat disarankan walaupun harganya relatif mahal. Kaca jenis ini sangat aman karena apabila pecah bentuk pecahannya sangat kecil sehingga tidak akan melukai penghuni rumah. Alternatif lain adalah menggunakan sejenis stiker pada kaca agar pecahannya tidak akan langsung berserakan di lantai.

Atap Dengan Zink Alume. Untuk material atap perlu dihindari pemakaian genteng beton atau genteng keramik yang berat. Pemakaian atap zinkalume ( campuran seng dan aluminium) ataupun atap asbes yang ringan lebih disarankan. Pemakaian polycarbonate dengan pilihan warna yang bervariasi merupakan salah satu pilihan. Selai itu dapat juga dipakai genteng metal ataupun sirap untuk mendapatkan tampilan yang lebih baik.

Konsep bangunan rumah tahan gempa pada dasarnya adalah upaya untuk membuat seluruh elemen rumah menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga tidak mudah runtuh akibat gempa. Untuk mewujudkannya diperlukan pemilihan material yang tepat, sambungan elemen yang cukup kuat dan tentunya pelaksanaan yang sesuai dengan perencanaan.

(Disadur dari berbagai sumber: CEEVEDS International, Rumahide, Kementrian Pekerjaan Umum)

..

Architectaria – Arsitek dan Perencana

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

2 Comments

  1. Irwandi

    Wah kebetulan ini skerang sumatera lagi kena gempa pak arya.. Saya pikir harusnya masyarakat (melalui edukasi yg terus menerus dilakukan) membudayakan untuk membangun rumah berdsarkan bentuk desain dan material yang diwariskan oleh leluhur kita. Rumah-rumah kayu yang ringan sepertinya lebih ramah dan tidak terlalu membahayakan jika terjadi gempa.

    just my 2 cents ya :)

    • @Irwandi,

      Iya betul sekali pak.. Rumah seharusnya memang direncanakan untuk menghadapi gempa. Sehingga efek gempa tersebut tidak membahayakan bagi rumah dan penghuninya.

      regards,

      Aria

Leave a Comment