Lebih Dekat dengan Boutique Hotel, Salah Satu Tipe Hotel Paling Menarik

desain butik hotel_1

Sejarah, lokasi, desain, sistem pelayanan, target pengunjung, hingga kelemahan Boutique hotel yang perlu Anda tahu.

Ingin merasakan sensasi menginap di hotel yang tak biasa? Saatnya menjatuhkan pilihan pada Boutique Hotel. Pada edisi lalu, kita telah menyinggung sedikit hal mengenai tipe hotel ini. Kali ini, kita akan mengeksplor lebih dalam dan mencari tahu hal – hal yang menarik pada Boutique Hotel ini, termasuk sejarah, pelayanan, desain, lokasi, dan kelemahan jenis hotel tipe ini.

Sejarah Boutique Hotel

Boutique hotel pertama kali didirikan pada kisaran tahun 1980an dan Boutique hotel yang pertama didirkan di kota – kota besar di Eropa dan Amerika, seperti London dan San Fransisco. Dua orang yang pertama kali mendirikan Boutique hotel ini adalah Ian Schrager dan Steve Rubell. Mereka berdua menjuluki hotelnya,Morgans, dengan sebutan Boutique hotel karena desain dan furnitur yang berbeda dengan tipikal hotel pada umumnya. Sejak saat itu, istilah Boutique hotel semakin populer.

Lokasi Boutique hotel

Boutique hotel biasanya banyak berlokasi di kota – kota yang menjadi pusat bisnis dan entertainmen, di mana tingkat trafik pengunjungnya cukup tinggi dan memungkinkan tingginya tingkat okupansi hotel. Boutique hotel juga menargetkan beberapa kota – kota yang menjadi destinasi wisata. Di Indonesia, Boutique hotel banyak ditemui di kawasan wisata seperti Yogyakarta dan Bali. Desainnya pun dibuat lekat dengan unsur budaya lokal, yang sekaligus menjadi pembeda hotel ini dengan yang lain.

Ukuran Boutique hotel

Mengenai ukuran Boutique hotel, tidak ada standar yang pasti. Yang jelas, mayoritas Boutique hotel terdiri dari 100 – 150 kamar, namun kadang ada juga yang hanya terdiri dari kurang dari 100 kamar hotel.

Desain Boutique hotel

Dalam masalah desain, di sinilah letak keunggulan Boutique hotel. Boutique hotel kerap menawarkan desain – desain yang out of the box. Meski begitu, beberapa Boutique hotel yang masih dalam jaringan yang sama kadang memiliki fitur – fitur desain yang hampir seragam, misalnya jumlah ruang, penempatan tiap – tiap ruang, hingga perlengkapan yang tersedia, semua dibuat sama. Meski begitu, mereka tetap menonjolkan desainnya, terutama desain arsitekturnya yang bisa langsung terlihat dari luar.

Berbeda dengan konsep desain hotel tematik yang kadang terlihat ‘nyeleneh’, desain arsitektur Boutique hotel masih tergolong wajar, bahkan kadang banyak mengadopsi unsur budaya dan ornamen lokal. Salah satu contoh Boutique hotel yakni The Emperor Hotel di Beijing. Hotel ini juga menawarkan keunikan lain, dimana setiap kamar dilabeli dengan nama – nama kekaisaran China. Dengan begitu, para tamu akan merasa mendapatkan pengalaman yang unik dan spesial tatkala menginap di sini.

desain butik hotel_2

Desain Arsitektur Butik Hotel (Rattan Akosin Hotel by Orion)

Sistem pelayanan Boutique hotel

Meskipun dalam hal jumlah kamar Boutique hotel ini tergolong sedikit, namun hal ini ditutupi dengan pelayanan yang maksimal dari semua pekerjanya. Dengan jumlah pengunjung yang tak terlalu banyak, hal ini memungkinkan para pekerja di hotel ini memberikan pelayanan dan pendekatan yang lebih intens dengan tiap pengunjung. Tak jarang, mereka hafal beberapa nama tamu, terutama mereka yang menginap dalam jangka waktu yang lama.

Selain itu, ratio atau perbandingan jumlah tamu dan jumlah pekerja dibuat agar tetap rendah, dengan demikian setiap orang pekerja hanya melayani jumlah tamu yang sedikit. Hal ini memungkinkan mereka melakukan pengamatan dan pengenalan yang lebih dekat dengan para tamu dan menciptakan nuansa keakraban, sehingga tamu merasa nyaman. Tak jarang, beberapa tamu menginap berulang kali di Boutique hotel yang sama guna bertemu dengan para staff dan pekerja di hotel tersebut.

Boutique hotel juga menawarkan beragam fitur pendukung seperti kolam renang, spa, kelas yoga, kelas seni, dan beberapa fitur lain yang disesuaikan dengan target pengunjung dan momen – momen tertentu.

Target pengunjung Boutique hotel

Target pengunjung dari Boutique hotel ini adalah para wisatawan muda yang menyukai petualangan dan ingin sensasi menginap yang lebih etnik, akrab, membumi, tanpa fasilitas dan kemewahan yang berlebihan. Tak heran, pengunjung Boutique hotel ini rata – rata berusia 20 hingga 40 tahunan, usia yang masih tergolong muda.

Meski tak menyediakan jumlah area yang cukup luas untuk keperluan bisnis, namun kadang beberapa perusahaan lebih senang mengadakan meeting di Boutique hotel. Hal ini bertujuan memberikan kesempatan bagi para staff untuk meeting sembari merasakan nuansa liburan.

Kelemahan atau kekurangan Boutique hotel

Poin – poin di atas hanya menonjolkan kelebihan Boutique hotel. Tak lengkap rasanya jika kita tak mengetahui apa saja kelemahan atau kekurangan Boutique hotel ini. Salah satu kelemahannya adalah ukuran yang terlalu kecil, yang memungkinkan pengunjung sering bertemu dengan staff, pekerja, atau pengunjung lain berkali – kali dalam sehari. Hal ini memberikan nuansa privasi yang rendah, sehingga tidak cocok bagi pengunjung yang ingin berlibur untuk menenangkan diri.

Selain itu, terkadang beberapa Boutique hotel memasang tarif kamar dan pelayanannya hampir sama dengan hotel full-service pada umumnya, atau bahkan jauh lebih mahal. Namun jika Anda sedang ingin berlibur untuk mencari tantangan dan nuansa baru yang penuh keakraban, tak ada salahnya memilih menginap di Boutique hotel ini.

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

1 Comment

  1. Artikel yang menarik, singkat dan jelas. kalau boleh tau sumber dr artikel ini mengacu pd apa yah? makasih

Leave a Comment