Jenis – Jenis Finishing untuk Bahan Kayu

finishing_kayu_1

Berbagai macam jenis bahan finishing untuk kayu serta cara mengaplikasikan wooden finishing tersebut dengan baik sehingga permukaan kayu terlihat lebih natural.

Untuk melakukukan finishing pada kayu, ada berbagai macam produk yang terdapat di pasaran, misalnya produk minyak tertentu yang mampu membuat permukaan kayu menjadi halus, mengkilat, dan lebih natural, sehingga urat – uratnya jelas terlihat. Minyak – minyak yang biasa digunakan sebagai finishing untuk kayu ini biasanya terbuat dari sari tanaman, sehingga lebih aman dan bebas racun. Beberapa jenis finishing kayu yang alami tersebut di antaranya teak oil, walnut oil, dan linseed oil. Ada juga wooden finishing yang terbuat dari bahan kimia.

Agar bisa mengenal berbagai macam finishing pada kayu, simak penjelasan lengkap mengenai finishing kayu baik yang berasal dari bahan alami maupun yang berbahan dasar kimia di bawah ini.

A. Wood stains

Wood stain merupakan salah satu jenis finishing untuk kayu yang paling pas guna memunculkan dan mempertegas tampilan urat – urat pada kayu, sehingga urat atau serat kayu akan nampak begitu jelas. Wood stain tersedia dalam produk yang berbahan dasar minyak (oil-based), berbahan dasar air (water-based), hingga wood stain dalam bentuk gel. Wood stain juga hadir dalam variasi semi transparan dan solid/pekat. Wood stain semi transparan akan memberikan sedikit sentuhan warna pada permukaan kayu sembari memunculkan penegasan pada urat – urat kayu. Sementara itu, wood stain dengan warna solid akan memberikan warna pada permukaan kayu secara utuh, sehingga urat – urat kayu tidak akan terlihat.

Ketika Anda akan menggunakan wood finishing ini pada permukaan furnitur atau kerajinan dari kayu, sebaiknya gunakan wood stain yang telah terpigmentasi (pigmented stains). Wood stain jenis ini tersedia dalam berbagai bahan dasar, mulai dari bahan dasar air, larutan sintetis, hingga minyak. Variasi warna wood stain pun beragam, mulai dari transparan hingga semi transparan. Wood stain terpigmentasi sangat mudah diaplikasikan, yakni cukup dengan menggunakan sikat atau kain lap. Untuk memberikan proteksi tambahan, Anda bisa menambahkan minyak – minyak alami atau polyurethane.

Khusus untuk latex dan wood stain berbahan dasar minyak, kedua jenis ini cocok digunakan pada penggunaan eksterior, misalnya untuk dek, patio, wood siding, atau outdoor furniture. Oil-based wood stain memiliki kelemahan, yakni warnanya cepat memudar terlebih ketika terkena zat yang cukup keras. Solusinya, Anda bisa menambahkan latex stain, sehingga akan memberikan proteksi ganda sekaligus membuat warna permukaan kayu lebih indah.

B. Pernis

Di beberapa website, pernis didefinisikan sebagai lapisan tipis (film) yang terbuat dari minyak yang berasal dari tumbuh – tumbuhan dengan ditambahkan satu atau beberapa resin yang sudah dimodifikasi, kemudian dilarutkan dengan pelarut berbahan dasar petrokimia. Beberapa pernis hadir dalam campuran beberapa minyak alami seperti linseed oil, soybean oil, hingga tung oil, kemudian dikombinasikan dengan resin misalnya alkyd atau polyester, phenolic dan polyurethane. Tak hanya itu, larutan ini masih ditambahkan dengan formula lain, hingga terbentuk pernis yang beredar di pasaran seperti sekarang.

Pernis yang berbahan dasar minyak mampu memberikan lapisan film yang lebih kuat, elastis, dan lebih protektif dalam menjaga permukaan kayu. Cara mengaplikasikan pernis biasanya dengan menggunakan sikat atau kain lap. Meski begitu, Anda bisa juga memasukkan pernis ke dalam botol spray, kemudian menyemprotkannya ke permukaan kayu hingga kering.

finishing_kayu_2

Desain Furniture Meja Meeting Dengan Pernis

C. Polyurethane

Polyurethane tersedia dalam produk berbahan dasar air atau minyak. Berbeda dengan wood stain yang lebih cocok untuk penggunaan outdoor, polyurethane ini cocok digunakan untuk penggunaan indoor atau dalam ruangan, misalnya untuk tiang dan struktur kayu, atau untuk furniture dan benda kerajinan yang berbahan kayu. Polyurethane mampu memberikan tampilan kayu yang menyerupai plastik. Selain itu, bahan ini mampu melindungi kayu dari pelapukan karena air atau keretakan akibat penggunaan yang berlebihan. Bahan ini tidak cocok digunakan untuk penggunaan luar ruangan, karena lapisan polyurethane akan berubah menjadi menguning dan sedikit retak bila terpapar sinar matahari secara langsung dalam jangka waktu lama.

D. Shellac

Shellac merupakan bahan finishing untuk kayu yang cukup favorit di kalangan pengrajin furnitur berbahan kayu. Bahan ini cukup versatile, atau fleksibel digunakan pada jenis kayu apa saja dan untuk penggunaan dimanapun. Shellac atau lak merupakan sekresi dari binatang Laccifer lacca yang habitatnya di Asia Tenggara. Biasanya Shellac ini didapatkan dari ranting – ranting pohon di mana hewan tersebut tinggal. Shellac yang ada pada pohon tersebut kemudian diproses lebih lanjut, mulai dari penyulingan/penyortiran, penghancuran, pengayakan, pemanasan, hingga kemudian menjadi produk siap pakai yang kita kenal sebagai shellac.

Shellac merupakan finishing kayu yang cepat kering dan mengeras, sehingga lebih tahan lama. Bahan ini biasa digunakan untuk furnitur, kerajinan dari kayu, hingga lantai kayu. Shellac berfungsi untuk melindungi permukaan kayu sekaligus menghilangkan dan menyamarkan noda pada kayu.

Selamat mencoba 🙂

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

No Comments Yet.

Leave a Comment