Hal – Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Rumah Belanda di Indonesia

rumah_gaya_belanda_3

Melihat dan mengidentifikasi fitur, karakter, material, serta furnitur pada rumah Belanda yang ada di Indonesia.

Di beberapa tempat di Indonesia, keberadaan bangunan Belanda atau rumah Belanda masih bisa ditemui. Bangunan – bangunan tersebut merupakan jejak – jejak kolonialisme Belanda di masa lampau. Rumah – rumah Belanda sebagian masih terawat dan masih ditinggali, namun banyak juga rumah Belanda yang sudah kosong hingga dirobohkan. Apapun itu, rumah Belanda memiliki karakter yang kuat dan nilai historis yang mendalam. Tak heran, hingga saat ini masih banyak orang yang berburu rumah Belanda untuk ditinggali. Meski sebagian orang menganggap rumah Belanda identik dengan kesan angker, tak bisa dipungkiri, karakternya yang kental nuansa klasik Eropa ala jaman kolonial menjadikan rumah Belanda tetap diminati.

Jika diperhatikan dengan seksama, sebenarnya rumah – rumah Belanda tersebut memiliki karakter yang khas yang membedakannya dari rumah – rumah biasa. Rumah – rumah ini memiliki kesan kokoh, sederhana, namun tetap artistik. Penggunaan warna putih sebagai warna dominan pada eksteriornya seakan – akan juga menjadi salah satu ciri rumah Belanda. Karakter rumah Belanda lain bisa Anda temukan di penjelasan di bawah ini.

Fitur khas rumah Belanda: Sebuah rumah dengan atap melengkung dan fasad simetris

Ciri bangunan Belanda yang paling nampak terlhat adalah penggunaan gambler roof (atap melengkung). Desainnya pun cenderung substansial, aplikatif, namun tetap atraktif. Selain itu, tampilan muka eksterior atau fasad cenderung simetris, meski ada juga beberapa rumah Belanda yang mengaplikasikan fasad asimetris. Fasad biasanya berupa segi empat, segi lima, atau segi enam. Pintu masuk bisa di bangun pada bagian tengah fasad, bisa juga berada di tepi kanan.

Selain itu, di rumah – rumah Belanda kita akan menemukan serambi atau porch yang ada di ground floor. Ujung dari roofline biasanya melebar. Yang pasti, tipe arsitektur bangunan Belanda yang ditemui di Indonesia sedikit berbeda dengan desain bangunan Belanda yang ada di negara asalnya. Hal ini karena menyesuaikan iklim dan kondisi angin di Indonesia.

Material pada bangunan Belanda

Bangunan atau rumah Belanda biasanya dibuat dengan memanfaatkan material seperti batu alam, batu bata, hingga clapboard siding, tergantung dengan lokasi rumah tersebut.

Denah ruang pada rumah Belanda

Denah ruangan pada rumah Belanda tak jauh berbeda dengan denah ruang pada rumah biasa, di mana terdapat area makan, area keluarga, kamar tidur, dan kamar tamu. Lantai atas biasa digunakan untuk kamar anak. Di tengah – tengah ruangan, terdapat area sentral yang langsung mengarah ke ruang – ruang utama dalam rumah tersebut.

Gaya furnitur pada rumah Belanda

Furnitur bernuansa Belanda di jaman kolonial bervariasi, mulai dari yang sederhana dengan yang dipenuhi ornamen pada permukaannya. Setelah itu, muncul teknik veneering dan marquetry yang cukup populer diaplikasikan pada furnitur bergaya Belanda. Kayu walnut merupakan kayu yang paling sering diaplikasikan dengan teknik veneering.

Pada kamar tidur, kita akan menemukan furnitur khas Belanda lain, misalnya lemari pakaian atau wardrobe yang cukup lebar. Biasanya ada ruangan kecil yang dibuat dengan sekat untuk memposisikan tempat tidur yang lokasinya agak terpisah dari posisi wardrobe, meski masih dalam satu ruangan.

Karya seni pada rumah Belanda

Di rumah – rumah Belanda, kita juga bisa menemukan ragam karya seni terpampang di beberapa sudut ruangan. Salah satunya adalah lukisan dari cat minyak. Karena di jaman dahulu, Belanda tengah gemar melakukan eksplorasi ke beberapa tempat di dunia lewat jalur laut, tak ayal dalam hal karya seni pun pemandangan laut paling sering ditemukan pada lukisan – lukisan Belanda. Tak heran, lukisan yang paling populer kala itu adalah lukisan bertema maritim.

rumah_gaya_belanda_1

Desain Arsitektur Rumah Bergaya Belanda

Kemudahan dan keuntungan memiliki rumah Belanda

Rumah Belanda biasanya tidak terlalu tinggi dan jarang dibuat bertingkat. Kalaupun dibuat bertingkat, mereka lebih senang menerapkan bangunan 1, 5 lantai, di mana lantai atas tidak sebesar lantai bawah. Desainnya cenderung stabil, tradisional, namun mampu memberi kesan homey feeling. Dengan ukuran bangunan yang tak terlalu tinggi, rumah Belanda cocok sebagai tempat tinggal keluarga dengan anak kecil yang tengah tumbuh berkembang.

Atap sedikit melengkung yang ada pada rumah Belanda juga memberikan keuntungan tersendiri. Kita bisa lebih mudah menambah lantai tanpa terbebani biaya yang terlalu besar.

Kerugian memiliki rumah Belanda

Kelemahan karakter rumah Belanda yaitu denah ruang yang masih mengikuti gaya tradisional, dengan area makan yang terpisah, sehingga kurang sesuai dengan tren masa sekarang yang serba kasual dan simple. Kelemahan lainnya adalah posisi kamar tidur yang ada di lantai dua. Bagi keluarga yang tinggal dengan orang yang sudah jompo, lokasi kamar tidur di lantai atas tentu dianggap kurang tepat dan menyulitkan orang tua ketika ingin beraktifitas.

Di samping kedua hal di atas, kekurangan lain dari rumah tradisional Belanda adalah keberadaan serambi atau porch. Kadang, serambi ini dibuat terlalu besar, namun diposisikan di tempat yang tidak strategis. Bahkan, porch ini lebih sering dibiarkan kosong dan jarang digunakan.

Selamat mencoba 🙂

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

No Comments Yet.

Leave a Comment