Desain Atap pada Arsitektur Kolonial

arsitektur kolonial di indonesia

Mengenal berbagai tipe dan jenis atap pada bangunan bergaya arsitektur kolonial.

Desain atap yang kerap kita lihat pada rumah – rumah bergaya kolonial tentunya sedikit unik dan berbeda dari desain atap pada umumnya. Desain atap rumah bergaya kolonial ini mulai populer seiring dengan kolonialisme yang terjadi di negara – negara Eropa dan Amerika. Meskipun yang biasa kita jumpai di Indonesia adalah rumah – rumah kolonial Belanda, namun pada dasarnya desain arsitektur Kolonial ini berasal dari Amerika.

Desain arsitektur Kolonial ini disebut – sebut sebagai salah satu hasil dari kolonialisme yang ada di Amerika yang menelurkan 13 negara bagian atau koloni. Koloni – koloni tersebut kebanyakan dihuni oleh pendatang yang mayoritas berasal dari Eropa. Sebagai negara yang banyak menampung imigran dari berbagai belahan dunia, otomatis mereka membawa pengaruh pada desain arsitektur kolonial dengan nuansa etnik yang kental. Hal ini menimbulkan variasi – variasi yang kaya pada gaya desain arsitektur kolonial, termasuk pada bagian bangunannya, yakni atap.

Ya, atap pada arsitektur kolonial cukup menonjol karena karakteristiknya yang unik. Bentuknya yang tinggi menjulang dan agak sempit menjadi ciri khas arsitektur jaman kolonial. Artikel kali ini akan mengajak Anda mengenal dan mencari tahu lebih dalam lagi mengenai bentuk, material, serta perkembangan model atap pada arsitektur kolonial.

Sejarah Arsitektur Kolonial

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa sebagian besar penduduk Amerika jaman dahulu adalah imigran. Tak ayal, Amerika sering disebut sebagai ‘The Country of Immgrants”. Pendatang atau imigran yang mendiami Amerika pertama kali kebanyakan masih membawa identitas serta perilaku dari daerah asal mereka. Untuk itu, rumah – rumah yang mereka bangun juga kebanyaka mengadaptasi gaya desain asal daerah mereka. Namun, masalah mulai timbul ketika mereka kesulitan mendapatkan material yang sama dengan bangunan yang ada pada daerah asal mereka.

Setelah itu, mereka mulai beradaptasi dan menyesuaikan desain arsitektur rumah mereka dengan lingkungan dan kondisi alam di Amerika, meski banyak juga yang tetap mempertahankan desain arsitektur khas negara asal mereka. Yang pasti, mayoritas sepakat bahwa rumah yang dibangun haruslah rumah yang tahan terhadap kondisi lingkungan dengan intensitas angin yang tinggi. Sebab, memang kondisi iklim di Amerika tergolong berangin, sehingga negara ini kerap dilanda bencana angin besar.

P3270082

Desain Garrison Colonial Home

Atap Model Kolonial yang Pertama Kali

Mungkin, nama Garrison colonial homes sudah tak asing dalam dunia arsitekur, khususnya arsitektur model Kolonial. Bangunan – bangunan tersebut menjadi cikal bakal arsitektur kolonial di era berikutnya. Bangunan tersebut memiliki cita rasa dan aksen khas kolonialisme Inggris. Atapnya biasanya memiliki dinding yang menjulang tinggi dari lantai pertama hingga lantai atas, dan pada lantai atas terdapat serambi atau emperan yang menjorok keluar. Bangunan juga kebanyakan dibuat dengan dua lantai dengan dua atap yang masing – masing menjulang tinggi. Di tengah – tengahnya terdapat cerobong asap.

Rumah – rumah kolonial di Amerika bagian selatan pada dasarnya memiliki karakter dasar yang hampir sama. Hanya pada bagian cerobong asapnya yang sedikit berbeda. Pada arsitektur ini, terdapat 2 cerobong asap dan menjadi salah satu ekstensifikasi dari rumah tersebut. Kedua cerobong asap tersebut tidak dibuat berdampingan, melainkan bersebrangan di kedua sisi bangunan yang berbeda.

Ketika pemilik rumah ingin membangun ruang tambahan di belakang bangunan, maka model Saltbox colonial style yang lebih banyak dikembangkan. Model arsitektur ini memungkinkan bentuk atap yang landai yang disesuaikan dengan karakter cuaca dan kondisi iklim Amerika yang berangin. Atap yang landai ini disebut memilki ketahanan yang lebih baik terhadap terpaan angin.

Selain itu, ada lagi model bangunan kolonial Cape Cod di mana atapnya memiliki kemiringan yang lebih curam dan sederhana. Desain ini memungkinkan salju turun ke bawah dan tidak menimbulkan penumpukan atau timbunan pada atap.

german colonial architecture

Desain Rumah Kolonial ala Eropa

Bentuk Atap yang Mendapat Pengaruh dari Eropa

Desain arsitektur kolonial yang banyak kita temui di Indonesia adalah model – model arsitektur kolonial Belanda. Desain ini sedikit banyak memilki perbedaan dan ciri khusus, terutama pada atapnya. Atap kolonial Belanda memiliki angle atau kemiringan yang tidak terlalu tajam, dengan puncak yang sedikit melengkung dan eaves yang menyebar / melebar.

Untuk desain arsitektur kolonial ala Prancis, atapnya cenderung memiliki garis – garis atau frame yang sederhana yang dilengkapi kubah – kubah yang menjadi ekstensifikasi dari bangunan utama dan kemudian ditopang denga pilar – pilar dengan ukuran yang tak terlalu besar. Terakhir, ada juga desain arsitektur kolonial dari Spanyol yang sangat populer semenjak negara ini melakukan ekspansi ke beberapa negara – negara kecil di Eropa. Pada bagian atap, bentuknya cenderung datar dengan genteng – genteng berbahan terakota.

Gaya Desain Arsitektur Kolonial di masa Sekarang

Bangunan – bangunan model kolonial di era sekarang sedikit banyak terinspirasi dari model arsitektur kolonial di jaman dulu dan berusaha mengkombinasikannya untuk menciptakan nuansa yang baru. Dan kini, telah banyak sentuhan – sentuhan modern yang diterapkan, terutama pada atapnya. Misalnya dengan menghilangkan keberadaan cerobong asap, karena elemen ini tidak fungsional, terutama untuk rumah – rumah di Indonesia yang jarang memiliki perapian di dalam rumah.

..

Architectaria – Arsitek dan Perencana

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

No Comments Yet.

Leave a Comment