Atap dari Jerami: Metode untuk Memanfaatkan Material Tradisional

rumah dengan atap jerami

Tips membangun bangunan modern ala tradisional dengan material jerami pada atap dan dinding bangunan.

Atap yang terbuat dari jerami merupakan teknik konstruksi yang sudah lama dipakai. Hal ini digunakan untuk menonjolkan kesan trandisional dan alami. Atap jerami biasa ditemukan di gubuk di tengah sawah, di gudang penyimpanan, dan di tempat – tempat lain yang biasa terdapat di pedesaan. Untuk penggunaan di area perkotaan, atap jerami ini kerap ditemukan pada pondok atau Gazebo yang ada di kafe atau restoran berkonsep tradisional ala pedesaan.

Namun kini seiring menggiatnya isu energi efisiensi, masyarakat dituntut untuk lebih bijak dalam memanfaatkan energi yang ada di sekitar. Termasuk melalui penerapan atap jerami ini, secara tidak langsung kita turut menggiatkan material – material alami dan tradisional yang belum begitu banyak diolah. Penggunaan jerami sebagai salah satu material konstruksi bisa memberikan nuansa dan gairah baru pada bangunan – bangunan modern.

Sekilas tentang material jerami

Sebelum dimanfaatkan, jerami – jerami ini biasanya diikat dalam satu buntalan sehingga cukup kuat untuk dijadikan material konstruksi. Meskipun jerami terlihat rapuh, namun ketika sudah dijadikan satu menjadi buntalan – buntalan, maka jerami ini cukup kuat untuk menjadi penopang bangunan. Ya, jerami tak hanya bisa dimanfaatkan sebagai atap, tapi juga dinding bangunan.

Nyatanya, jerami ini cukup tahan lama dan tahan terhadap api. Namun untuk menginstal jerami pada dinding tidaklah mudah. Dibutuhkan post-and-beam frame, yakni frame khusus yang memanfaatkan batang – batang kayu besar dan kuat sebagai kerangka bangunan.

Ketika dimanfaatkan sebagai atap, jerami ini juga bisa menyajikan kesan yang atraktif. Meski begitu, pastinya akan sulit mengaplikasikan atap jerami pada bangunan yang dirancang modern. Karena, biasanya bangunan yang mengandalkan material jerami membutuhkan ketrampilan tukang bangunan yang tinggi. Namun dengan teknik alternatif, bukan mustahil kita bisa mendapatkan bangunan modern beratap jerami lebih mudah.

Material dan alat yang diperlukan

  • Pre-fabricated roofing trusses / kuda – kuda penopang
  • EPDM, neoprene atau PVC membranes
  • Buntalan – buntalan jerami (straw bales)
  • Material organik, seperti kompos atau pupuk organic

Metode penggunaan jerami pada konstruksi rumah (atap dan dinding)

1. Pastikan bahwa atap jerami cocok untuk konstruksi bangunan Anda

Meski terlihat mudah diaplikasikan, tidak semua bangunan cocok menerapkan penggunaan atap ini. Banyak hal yang mesti dipertimbangkan, termasuk lokasi, keadaan lingkungan sekitar, serta kondisi iklim dan cuaca di sekitar bangunan. Selain itu, usahakan memilih jerami dari batang tumbuhan, dan bukan jerami dari daun ilalang atau rumput kering. Sebab, ilalang tersebut mengandung lebih banyak benih yang bisa menarik perhatian hewan pengerat seperti tikus, yang kemudian akan menggerogoti jerami ini.

Selain itu, usahakan tidak menggunakan jerami dari batang padi, karena jerami ini agak sulit digunakan sebagai konstruksi bangunan. Sebaiknya, gunakan jerami dari batang gandum atau rye (gandum hitam). Setelah memilih jenis jerami yang tepat, Anda bisa membubuhkan material organik seperti kompos atau pupuk organik pada lapisan – lapisan yang ada pada buntalan jerami.

arsitektur bangunan bali dengan atap jerami

Desain Arsitektur Bangunan ala Bali dengan Atap Jerami

2. Pasang frame untuk atap dengan mempertimbangkan iklim, lingkungan, dan kondisi alam

Untuk membangun kerangka bubungan atap, pastikan Anda mempertimbangkan kondisi iklim dan cuaca di sekitar. Jika Anda tinggal di daerah dengan iklim yang intensitas hujannya yang rendah, Anda bisa menginstal bubungan atap yang rendah atau hampir datar agar lebih efisien. Namun, jika Anda tinggal di lingkungan dengan curah hujan tinggi, sebaiknya install frame bubungan atap yang tinggi, agar air tidak menggenang di atas atap.

Bisa juga Anda mengaplikasikan roof overhang agar tetesan air hujan tidak langsung mengenai dinding, apalagi jika dindingnya juga menggunakan bahan jerami. Selain itu, pasang kuda – kuda / tiang penopang (roof trusses) untuk menunjang dek kayu yang solid. Terakhir, tutupi dengan lapisan anti air di sepanjang permukaan atap.

3. Perlahan – lahan, pasangkan tumpukan jerami pada atap

Setelah struktur atap sudah dibuat, perlahan – lahan sebarkan buntalan jerami di atasnya sehingga seluruh atap tertutupi jerami. Kemudian, tambahkan lapisan material organik seperti kompos atau pupuk organik di atasnya. Ketebalannya bisa mencapai 15 – 20cm. Uniknya, setelah semua material organik telah disebar dengan rata, Anda bisa mulai memanfaatkan atap untuk berkebun. Ya, Anda bisa menanaminya dengan tumbuhan herbal atau bunga. Menarik bukan?

4. Tambahkan jerami pada atap secara teratur

Jerami adalah material organik, maka bukan mustahil ketebalannya akan menipis seiring dengan berjalannya waktu dan paparan cuaca. Maka, usahakan setiap musim kemarau, Anda bisa menambahkan jerami untuk meningkatkan ketebalannya. Jangan lupa, sebarkan kembali material organic seperti pupuk atau kompos. Pastikan bahwa ketebalan atap ini berada pada kisaran 14 inchi.

Beberapa Tips Penting:

  • Untuk bangunan yang tak terlalu besar dan tak terlalu luas, usahakan tidak perlu menggunakan buntalan jerami yang terlalu tebal. Cukup gunakan buntalan jerami dengan ketebalan 4 inchi.
  • Dalam membuat frame untuk atap, pastikan Anda mempertimbangkan material serta konstruksi dinding bangunan. Untuk rumah jerami dengan post-and-beam frame, frame pada atap mesti bisa mengakomodasi karakter dinding yang luas, dengan beban berat atap (roof weight) yang terdistribusi secara merata dan ditopang oleh seluruh permukaan dinding bangunan, sehingga tidak tertumpu pada satu titik di pusat.

Selamat mencoba 🙂

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

No Comments Yet.

Leave a Comment